Selamat Datang dirumah Bass Marlin Goesty Bass Marlin (KKM KM.Marlin)

KM.Marlin

KM.Marlin
KM.Marlin Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi

Jumat, 17 April 2020

Sejarah Penyelaman di Laut


  
Menyelam adalah kegiatan yang dilakukan di bawah permukaan air, dengan atau tanpa menggunakan peralatan, untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Menyelam, sebagai suatu profesi, sudah dikenal lebih dari 5000 tahun lalu. Penyelam zaman dulu mungkin tidak bisa mencapai kedalaman lebih dari 100 feet. Biasanya kegiatan ini dilakukan untuk mengambil kerang dan mutiara. Dalam sejarah Yunani, Herodotus menceritakan seorang penyelam bernama Scyllis yang dipekerjakan Raja Persia Xerxes untuk mengambil harta karun yang tenggelam pada abad ke 5 SM.

Sejak jaman dulu, penyelam juga dipergunakan untuk militer, seperti menenggelamkan kapal musuh, memotong jangkar, dan melubangi kapal dari bawah. Alexander The Great mengirimkan penyelam untuk meruntuhkan pelabuhan di kota Tyra (Libanon) yang kemudian dikuasai tahun 332 SM.

Para penyelam jaman dulu juga dipergunakan untuk menyelamatkan barang yang tenggelam. Pada abad pertama SM, khususnya di Mediterania barat, para penyelam sudah terorganisir dan pembayarannya sudah diatur hukum. Pembayarannya tergantung kedalaman air yang diselami. Jika kedalamannya 24 feet maka penyelam dibayar ¨รถ barang yang diselamatkan. Kedalaman 12 feet maka diberikan 1/3, dalam kedalaman 3 feet maka diberikan 1/10.

Pipa Udara

Penyelam jaman dulu hanya memikirkan bahwa panjangnya pipa udara adalah sangat penting dalam penyelaman. Banyak design yang memakai pipa panjang yang fleksibel dengan bagian atas mengapung. Tentunya hal ini tidak akan bekerja dengan baik pada kedalaman 3 feet, karena akan menyebabkan penyelam kekurangan oksigen dan akan tenggelam. Tekanan air juga meningkat sehingga menekan pipa dan dada. Hal ini menyebabkan design alat selam yang menggunakan pipa udara tidak praktis dan sukar dilakukan.

Breathing Bag

Lukisan Asyiria pada abad 9 SM menggambarkan seorang penyelam menggunakan tanki udara terbuat dari kulit. Namun penafsiran lain menjelaskan bahwa itu adalah perenang yang menggunakan tanki udara untuk mengapung di air.


Diving Bell

Sekitar tahun 1500 - 1800 lonceng selam telah berkembang, sehingga penyelam dapat menyelam dalam hitungan jam. Lonceng selam adalah peralatan berbentuk bel dimana dasarnya terbuka di dalam laut.
Lonceng selam pertama sangat besar sehingga penyelam dapat menyelam dalam beberapa jam. pada perkembangan lanjut, lonceng selam ini terhubungkan dengan kabel dari permukaan. Lonceng ini tidak dapat bermanuver dengan baik. Penyelam dapat tetap didalam atau keluar lonceng sebentar sambil menahan napas.
Lonceng selam pertama dibuat tahun 1513. Pada tahun 1680, petualang bernama William Philip berhasil mengangkat harta tenggelam sebanyak $200.000 dengan metode ini. Pada tahun 1690, seorang ahli astronomi Inggris, Edmund Halley mengembangkan lonceng selam, dengan menenggelamkan tong dengan pemberat. Bersama 4 temannya ia dapat bertahan 1 1/2 jam dalam kedalaman 60 feet di sungai Thomas. 26 tahun kemudian, dengan mengembangkan peralatannya menjadi lebih baik ia dapat bertahan 4 jam dalam kedalaman 66 feet.

Diving Suit  

Pada tahun 1715, seorang Inggris bernama John Lethbridge mengembangkan baju selam. Pertama kali ia menciptakan sebuah tong dari kayu yang dilapisi kulit, juga dilengkapi dengan kaca di bagian depan, dan lubang untuk lengan. Dengan menggunakan peralatan ini penyelam bisa melakukan tugasnya. Peralatan ini diturunkan dari kapal ke dalam air. Baju selam ini cukup berhasil, karena kedalaman normal operasinya 60 feet dan selama 34 menit. Tapi kelemahannya hampir sama dengan lonceng selam, yaitu terbatasnya suplai udara.

Pada tahun 1823 John dan Charles Deane, mempatenkan pakaian pemadam kebakaran. Dengan pakaian tersebut, pemadam kebakaran dapat masuk ke dalam bangunan yang terbakar. Pada tahun 1828, pakaian tersebut dipatenkan untuk selam, dimana terdiri dari pakaian yang dapat menahan dingin, helm, dan hose yang menghubungkan dengan permukaan. Suplai udara berasal dari permukaan dan dikeluarkan lewat bagian bawah helm, sehingga jika posisi helm terbalik maka akan cepat terisi air. Akhirnya oleh Augustus Siebe, helm ini dilengkapi dengan seal di bagian leher dan katup kuras.

Beberapa penemu bekerja sama untuk membuat pakaian selam yang dilengkapi dengan senjata. Pakaian ini dapat mengatur tekanan sehingga tekanan udara yang dihirup sama dengan tekanan udara permukaan. Pakaian selam ini merupakan pengembangan dari pakaian John Lethbridge. Penggunaan pakaian ini dipertanyakan, karena bentuknya agak kaku untuk melakukan tugas. Pada tahun 1930 kedalaman yang dicapai 700 feet, tetapi dengan pengembangan sekarang sudah mencapai 2000 feet air asin (fsw).

Caissons

Pada saat yang sama dalam pengembangan pakaian selam, para penemu bekerja keras untuk mengembangkan lonceng selam dengan meningkatkan ukuran dan menambah kapasitas pompa udara sehingga dapat menjaga tekanan udara dan mengeluarkan air di dalam lonceng.

Perkembangan pompa udara yang cepat menambah ukuran ruang yang cukup luas sehingga beberapa pekerja dapat bekerja dibawah air. Hal ini bermanfaat terutama dalam pembangunan kaki jembatan atau terowongan. Ruangan yang diciptakan disebut caissons, dalam bahasa Prancis berarti kotak besar.

Caisson didesain sehingga penyelam dapat mudah mencapai permukaan. Dengan mengggunakan sistem kunci, tekanan di dalam caisson dapat diatur saat penyelam masuk dan keluar. Pada akhirnya caisson berkembang cepat. Tapi dengan pemakaian caisson ini banyak pekerja mengalami penyakit dekompressi, sehingga penyakit dekompresi disebut juga penyakit caisson.

SCUBA (Self Contained Breathing Apparatus)

Peralatan selam yang dikembangkan John Deane, Agustus Siebe memang memberikan penyelam waktu yang lama dalam air, tetapi mobilitas sangat kurang. Para penemu mencari metode lain tanpa menurunkan tingkat bahaya. Solusi terbaik adalah menyediakan suatu alat suplai udara yang dapat dibawa.

Pada awalnya tidak berhasil karena terbatasnya kapasitas pompa udara untuk menyimpan udara dalam tekanan tinggi. Setelah hal ini dapat diatasi, maka udara dapat disimpan dalam suatu tempat tabung dalam tekanan tinggi sehingga menyediakan suplai udara yang cukup lama.

Scuba berkembang dengan cepat sehingga berkembang menjadi 3 macam tipe dasar:

1.    Open Circuit Scuba (dimana seluruh udara buang langsung dikeluarkan ke lingkungan sekitarnya). Regulatornya dikembangkan oleh Benoist Rouquayrol, sedangkan sistemnya dikembangkan oleh Jacques-Yves Cousteau dan Emile Gagnan.

2.    Closed Circuit Scuba (dimana seluruh udara buang dimasukkan lagi ke sistem sehingga dapat di daur ulang). Henry A. Fleuss mengembangkan sistem ini pada tahun 1876 dan 1878, Fleuss kemudian berhasil menguji peralatannya pada tahun 1879 dalam tanki air hampir selama 1 jam.
3.    Semiclosed Circuit Scuba (kombinasi dari keduanya).

Tipe Penyelaman

Kegiatan menyelam dapat dibedakan menjadi beberapa jenis tergantung antara lain kepada, kedalaman, tujuan dan jenis peralatan yang digunakan. Jika kedalaman yang dijadikan tolok ukur, penyelaman dapat dibedakan menjadi:

-       Penyelaman dangkal.Yaitu penyelaman dengan kedalaman maksimum 10 m
-       Penyelaman sedang.Yaitu penyelaman dengan kedalaman < 10 m s/d 30 m
-       Penyelaman dalam.Penyelaman dengan kedalaman > 30 m.

Jika didasarkan kepada tujuan yang hendak dicapai dalam kegiatan itu, penyelaman bisa dibedakan menjadi :

a.    Penyelaman untuk kepentingan pertahanan dan keamanan negara, antara lain:
-       Tactical (Combat) diving yaitu penyelaman untuk tugas-tugas tempur.
-       Submarine Rescue, penyelamatan kapal selam.
-       Search & Rescue (SAR).
-       Inspection & Repair (inspeksi dan perbaikan)

b.    Ship Salvage

-       Penyelaman-penyelaman jenis ini pada umumnya dilaksanakan oleh para penyelam Angkatan Bersenjata.

-       Penyelaman komersial.Yaitu penyelaman professional antara lain untuk kepentingan konstruksi dibawah permukaan air, penambangan lepas pantai (Off shore drilling), salvage, dll.

-       Penyelaman Ilmiah (Scientific Diving). Penyelaman yang dilakukan untuk kepentingan ilmiah, antara lain : penelitian biologi, geologi, arkeologi dan kelautan pada umumnya.

-       Penyelaman Olah Raga (Sport Diving). Penyelaman yang dilakukan untuk kepentingan mempertahankan atau meningkatkan kondisi kesehatan dan kebugaran jiwa dan raga.

Ada lima tipe umum selam sesuai metode, yaitu:

1.    Breatholding atau Free Diving.

Disebut juga skin diving atau snorkeling, merupakan penyelaman yang paling mudah dan paling tua. Tidak menggunakan suplai udara, sehingga waktu menyelam tergantung lamanya penyelam dapat menahan napas. Umumnya penyelam menggunakan masker untuk melihat dalam air, fin untuk mengayuh, dan snorkel untuk bernapas ketika berenang dengan muka menghadap ke bawah air. Lebih baik lagi menggunakan baju wet suit, selain menghindari hipotermi, juga dapat menambah daya apung.

2.    Scuba diving.

Menggunakan tabung dan regulator tekanan. Penyelam biasanya menggunakan tabung selam yang berisi 72 atau 90 cubic feet (cuft) dengan tekanan 2200 atau 3300 pound per square inch gauge (PSIG). Seperti snorkeling, penyelam menggunakan masker, fin, snorkel, pemberat, BC, jam selam, dan depth gauge. Untuk menghindari hipotermia, penyelam menggunakan wet suit. Jika suhu air < 10 OC, biasanya menggunakan dry suit. Selain peralatan dasar, peralatan tambahan juga diperlukan untuk keamanan, navigasi, dan komunikasi.

3.    Surface Supplied or Tethered diving.

Penyelaman ini memerlukan suplai udara dari permukaan secara terus menerus biasanya untuk tujuan militer atau komersial.

4.    Saturation diving.

Konsep penyelaman ini adalah bahwa dalam 24 jam pada kedalaman tertentu, jaringan tubuh telah menyeimbangkan tekanan sehingga waktu  dan profil dekompresi tetap sama walaupun penyelam berhari-hari dalam air. Sebelum melakukan penyelaman, biasanya penyelam akan tinggal di dalam ruang yang bertekanan sama dengan kedalaman, setelah itu diangkut kedalam kapsul atau lonceng selam ke kedalaman yang diinginkan.

5.    One Atmosphere diving.

Pada penyelaman ini, tekanan udara yang digirup penyelam diatur supaya sama dengan permukaan laut (1 ATM). Leonardo Da Vinci telah mendesain gambaran yang sama dengan model modern (lihat Armored Diving Suit), tetapi baru direalisasikan pada abad 20.

Rebreather diving

Konsepnya yaitu dengan mensirkulasikan kembali udara yang telah dibuang penyelam, dengan membuang karbondioksida, dan menambah oksigen sebelum masuk ke dalam tubuh penyelam kembali. Dengan adanya konsep ini, menyelam akan lebih dalam dan lebih lama, dan gelembung udara tidak ada yang mungkin mengganggu pandangan. Tetapi peralatan selam ini sangat berbahaya jika tidak digunakan dan dipelihara dengan baik.

Mixed Gas diving

Pada penyelaman ini tidak menggunakan udara bebas, tetapi menggunakan udara dengan komposisi tertentu. Udara dengan komposisi yang diatur ini dapat dipergunakan dalam berabagai tipe selam lain. Ada tiga macam campuran udara yang dipakai dalam penyelaman:

1.    Enhanced Nitrox (I,II)

Nitrox adalah campuran gas yang terdiri dari oksigen dan nitrogen. Yang sering digunakan ada dua, yaitu Nitrox 1 (32 % oksigen, 68 % nitrogen) dan Nitrox II (36 % oksigen, 64 %). Hanya Nitrox I yang boleh digunakan dalam penyelaman olahraga. Sebenarnya kata Nitrox berarti campuran gas dengan komposisi oksigen < 21 %. Biasanya dipergunakan dalam selam, dan penyelaman saturasi, dimana efek samping keracunan oksigen dapat dihindarai. Secara teknis, jika kadar oksigen > 20 % maka disebut "enrich air nitrox" (EAN) atau "oxygen enrich air" (OEA). Tapi dalam prakteknya istilah EAN dan Nitrox sering tertukar.

Dengan adanya EAN maka kemungkinan terjadinya penyakit dekompressi menjadi                  berkurang, namun efek samping keracunan oksigen akan lebih besar.
Untuk penyelaman rekreasi, penggunaannya masih dalam perdebatan.

         Keuntungan dan Kerugian Penggunaan EAN pada kedalaman 50-130 fsw:

         Keuntungan :

Menurunkan risiko penyakit dekompresi.
 Menurunkan kejadian keracunan nitrogen.
Mengurangi waktu nitrogen sisa (residual nitrogen).
Waktu surface interval lebih pendek.
Mengurangi waktu dekompresi jika bottom time maksimum terlewati.
Mengurangi waktu survace interval antara menyelam dan terbang.

       Kerugian:

Memerlukan pelatihan khusus.
Menggunakan peralatan khusus Nitrox.
Meningkatkan oksidasi tabung scuba menjadi cepat berkarat.
Mempercepat kerusakan peralatan.
Meningkatkan risiko kebakaran.
Risiko keracunan oksigen lebih besar.

Heliox 

Selain nitrox, yang sering digunakan adalah heliox, yaitu campuran helium dan oksigen. Helium merupakan gas inert, yang menggantikan nitrogen. Penggunaannya menghilangkan efek keracunan oksigen dan menurunkan keracunan oksigen. Heliox disarankan dalam penyelaman > 130 fsw. Heliox sangat mahal.

Trimix

Trimix adalah campuran gas helium, nitrogen dan oksigen. Komposisinya tergantung dari profil waktu selam yang dipakai. Angkatan Laut AS menggunakan pada kedalaman > 190 fsw, dan selalu digunakan pada kedalaman ekstrim > 600 fsw.

       Yang digunakan dalam penyelaman rekreasi adalah jenis helitrox yaitu trimix yang diperkaya oksigen. Campuran yang sering digunakan adalah TX 26/17 (26 % oksigen, 17 % helium, dan 57 % nitrogen). Beberapa kematian penyelam olahraga berkaitan dengan penggunaan heliox, sehingga penggunaan trimix helitrox untuk penyelaman rekreasi masih diperdebatkan.

     














Senin, 13 Agustus 2018

Hutan Menawan Di Dasar Laut


   

            Speedboat membelah ombak Selat Bali, baru-baru ini. Perahu mesin ini membawa beberapa wisatawan pencinta keindahan bawah laut. Rombongan kecil ini bergerak ke arah Utara Banyuwangi sekitar Pantai Bunder Bangsring.


             Speedboat berhenti di sebuah titik. Tepatnya di salah satu terumbu karang. Para penumpang turun bergantian melihat kondisi terumbu karang di paparan pantai bunder dan mengamati hasil rehabilitasi karang model biorock. Kegiatan rehabilitasi ini adalah kerja sama antara Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi dengan masyarakat nelayan sekitar.


             Penyelaman ini ibarat membuka jendela dan menatap hamparan terumbu karang. Bila di darat ada hutan, di laut kita akan mendapati terumbu karang. Hutan dan terumbu karang memiliki peran yang sama bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain. Bahkan, terumbu karang memiliki fungsi spektakuler: menyimpan catatan sejarah kehidupan bumi sejak ratusan tahun silam. Di luar itu, terumbu karang memiliki fungsi ekologis, ekonomis dan juga estetika.





             Ironisnya, tingkat kerusakan terumbu karang di Tanah Air yang memiliki luas sekitar 51.000 hektare mencapai 70 persen. Faktor penyebab kerusakan adalah alam, perilaku manusia dan pemanasan global. Entah apa yang bakal terjadi jika tidak ada rehabilitasi. Yang pasti bumi tidak lagi memiliki pencatat sejarah dan pengingat peristiwa alam di masa depan.

             Di bawah kedalaman laut yang biru membentang ragam kehidupan yang diperlihatkan melalui tarian tumbuhan dan hewan-hewan. Jutaan polip berseliweran berjuang membangun karang. Setelah menjadi koloni, terbentanglah terumbu laksana hutan di daratan.

            Di seputaran pantai bunder bangsring dan Grand Watudodol, tim Marlin Diving Club membuat proyek percontohan rehabilitasi terumbu karang. Mereka menerapkan model berbeda untuk rehabilitasi terumbu karang yakni biorock di bunder dan transplantasi di GWD. Namun dengan satu tujuan: yakni memancing polip membangun karang hingga menjadi sebuah koloni.

            Sebenarnya makhluk hidup yang bersemayam di dalam karang adalah sebuah sel hidup bernama polip. Untuk bisa hidup polip bergantung pada hewan laut lain bernama zooxanthella yang seakan berfungsi sebagai gudang beras. Hubungan polip dan zooxanthella atau autotropik menghasilkan proses fotosintesa dan respirasi. Sedangkan untuk pasokan protein dan sumber energi lain didapat dari proses heterotropik melalui plankton atau sumber nutrin lain.

              Dengan dukungan zooxanthella dan pasokan nutrin itu polip pun memiliki kekuatan untuk membangun rumah yang disebut karang. Pada akhirnya karang-karang itu menjadi bagian dari sebuah ekosistem perairan pantai yang dinamis namun rentan terhadap perubahan lingkungan bernama terumbu karang.

              Tidak semua terumbu karang rusak dapat direhabilitasi. Khusus untuk kerusakan terumbu karang yang terjadi di Pantai Bunder Bangsring dan GWD, Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi setempat membenamkan sebuah kerangka besi bernama biorock sejak beberapa bulan silam.

              Proses rehabilitasi model biorock merupakan pengembangan dari penelitian Thomas J. Goreau dan Wolf H. Hilbertz delapan tahun lampau. Caranya dengan membuat terumbu buatan dari besi yang dibentuk seperti iglo atau kerucut. Kerangka besi berfungsi sebagai katoda dalam proses elektrolisasi air laut. Sedangkan kawat-kawat berbentuk jala menjadi anoda.

              Untuk mendukung efek elektrolisasi, katoda dan anoda ini mendapat pasokan listrik sebesar 12 volt dari kabel yang dihubungkan ke solar sel di pantai bunder. Efek elektrolisasi itu diharapkan membuat kalsium karbonat lebih cepat mengapur. Enam bulan sebelumnya.

              Ternyata upaya para peneliti menunjukkan hasil yang lumayan menggembirakan. Enam bulan setelah masa pembenaman biorock iglo dan penempelan karang, Team mencatat terjadi peningkatan panjang karang rata-rata 1 sentimeter. Peningkatan kecepatan tumbuh ini terbilang lima kali lebih cepat dari biasanya. Ini membuktikan efek elektrolisasi benar-benar bisa mempercepat proses pengapuran.

               Proses rehabilitasi dengan model biorock berbentuk kerucut juga menunjukkan hasil positif. Ikan-ikan laut, meski yang terbilang kecil, mulai riang bermain di dalamnya. Hal ini membawa harapan bagi para nelayan. Manfaat besar karang akan benar-benar terasa setelah karang-karang scleractina ini menjadi sebuah terumbu yang juga memberikan nilai ekologis dan estetika serta fungsi perlindungan terhadap pulau di dekatnya.

              Di GWD, kelompok lainnya melakukan model transplantasi. Kegiatan model transplantasi ini dikembangkan oleh Marlin Diving Club dengan model tanaman Kaktus. Aktivitas penduduk di tempat ini terbilang tinggi sehingga ancaman kerusakan terumbu karang pun tinggi. Beruntung ada Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi yang selalu peduli terhadap keberadaan karang yang menjadikan kawasan ini sebagai daerah perlindungan laut. Membuat ekosistem terumbu karang di kawasan ini lebih terlindung. Bahkan penduduk di sekitaran pantaipun dipicu ikut menjaga, mengembangkan serta meraih nilai ekonomis dari keberadaan terumbu karang.




              Antropogenic atau prilaku manusia yang dengan sengaja melakukan pemboman atau pembiusan dengan sianida atau menambang langsung karang yang sudah jadi menjadi ancaman kerusakan terumbu karang di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu, ancaman penyakit dan predator di dalam laut ternyata ikut memberikan andil pada kerusakan terumbu karang. Ikan kepe-kepe, ikan burung kakatua, bintang laut hingga bulu babi adalah contoh para predator.

              Di luar itu ada juga organisme pengebor yang ikut andil mengurangi koloni terumbu karang. Ancaman terberat adalah pemanasan global yang ditimbulkan rumah kaca yang membuat suhu laut meningkat tajam di luar batas aman suhu untuk terumbu karang antara 18 hingga 28 derajat Celsius. Hasil akhir dari pengerusakan itu adalah hilang atau keluarnya zooxanthella yang sebenarnya merupakan gudang beras bagi polip sehingga polip kelaparan, memucat lalu memutih atau bleaching kemudian mati.

            Di perairan selat bali team Marlin Diving Club Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Banyuwangi melakukan rehabilitasi model transplantasi atau pencangkokan karang dengan mengikatkan di sebuah rak di dasar laut. Tujuannya untuk memulihkan atau membentuk terumbu karang alami.

             Proses rehabilitasi model transplantasi ini diawali dengan memotong sebuah koralit karang. Setelah karang ditempelkan di atas sebuah subtrat yang merupakan campuran semen dan batu apung. Bagian tengah substrat dilubangi untuk meletakkan pragmen karang. Setelah itu teman-teman team Marlin Diving Club mengikatkan karang di atas sebuah rak besi.

            Pertumbuhan karang cangkokan cukup terlihat. Paling tidak lebih cepat dibandingkan karang yang dibiarkan hidup secara alami. Di laut sedalam sekitar lima meter, Para pencinta alam bawah laut menyaksikan sejumlah rak besi dengan substrat berisi karang yang mulai memanjang.

           Catatan menarik tentang terumbu karang di tempat ini adalah masih banyak terumbu karang dengan keanekaragaman spesies yang benar-benar memanjakan mata. Sejauh mata memandang hanya terlihat warna-warni alga yang melapisi setiap karang. Bahkan ikan-ikan hias berkeliaran bebas seakan ikut menikmati keindahan kawasan pemukiman polip ini.

            Buah dari pertumbuhan karang adalah terumbu karang yang bukan lagi menjadi surga bagi biota laut dan menghadirkan keindahan laut yang sebenarnya. Namun, terumbu karang yang kian kokoh akan memperluas zonasinya sehingga ia pun menjadi pelindung pulau yang ada di belakangnya.

            Seperti hutan yang menjadi pemasok oksigen terbesar dan paru-paru kehidupan di atas bumi demikian juga dengan terumbu karang bagi kehidupan di laut. Makin memutih terumbu karang akibat tangan-tangan manusia, predator atau pemanasan global tentu saja membawa kerugian yang teramat sangat. Sebab dampak akhirnya juga akan terasa pada manusia yang bukan hanya kehilangan sumber ekologi, ekonomi dan estetika, tapi sang pelindung kehidupan di daratan ikut lenyap.

           Lebih dari itu, manusia akan kehilangan kekayaan nan tak ternilai. Yakni pencatat sejarah perjalanan bumi. Karena ternyata bila sebongkah terumbu karang dibelah maka akan mengungkap usia daratan di dekatnya sekaligus catatan peristiwa alam yang pernah terjadi. Maka sangat merugi bila sang pelindung dan pencatat sejarah kehidupan bumi ini hancur. MDC/Bassmarlin.

          Terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae. Terumbu karang termasuk dalam jenis filum Cnidaria kelas Anthozoa yang memiliki tentakel. Kelas Anthozoa tersebut terdiri dari dua Subkelas yaitu Hexacorallia (atau Zoantharia) dan Octocorallia, yang keduanya dibedakan secara asal-usul, Morfologi dan Fisiologi.

           Koloni karang dibentuk oleh ribuan hewan kecil yang disebut Polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh Tentakel. Namun pada kebanyakan Spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu yang disebut koloni. Hewan ini memiliki bentuk unik dan warna beraneka rupa serta dapat menghasilkan CaCO3.

           Terumbu karang merupakan habitat bagi berbagai spesies tumbuhan laut, hewan laut, dan mikroorganisme laut lainnya yang belum diketahui. Mari Kita jaga dan lindungi bersama-sama. Terima Kasih, Jayalah Perikanan Indonesia.

Saya susah payah merintis konservasi ini, 
saatnya generasi mudalah melanjutkannya. 
Maka inilah tanggung jawab berat, 
karena mencari generasi muda yang benar-benar peduli 
sangat-sangat sulit sekali. GoestyBassMarlin@blogspot.com

Minggu, 25 Maret 2018

Keresahan Cinta Dalam Keindahan Lautku


Meski Terumbu Karang di Indonesia sudah rusak,
tapi nggak separah itu kok
Sahabat masih bisa mencintai dan merawatnya.
Indahnya Indonesia bukan tentang milikmu atau milikku,
tapi milik kita yang harus dijaga bersama.


    Sejenak duduk di gubug kayu pinggir pantai sambil ngeliat batu karang bikin saya ngelamun kemana-mana. Entah kenapa juga kok tiba-tiba malah jadi ingat tragedi kapal asing yang nabrak terumbu karang di Raja Ampat.

       Saya jadi kepikiran, kalau sudah rusak begitu mau diapain ya? Padahal buat ngebalikin kayak semula kan butuh waktu lama banget tuh. But I can’t do anything, ya cuma mikir-mikir aja sih. Lalu, beberapa hari lalu saya ngobrol dengan salah seorang penyelam asli orang Bangsring Wongsorejo Banyuwangi. Entah harus seneng atau sedih, karena faktanya terumbu karang di Indonesia –nggak cuma di Raja Ampat-  memang udah mulai rusak sahabat.

Meski udah sedikit rusak, bersyukurlah karena ternyata kondisinya masih cukup terjaga.


      Terumbu karang rusak itu nggak jauh-jauh dari hasil ulah manusia. Mau nangkap ikan, pake bahan kimia atau peledak. Buang sampah, di sungai bahkan di laut. Ada terumbu karang, diinjek-injek bahkan ditulis-tulis “i’m here” atau apalah.

   Hello sahabat, sadar nggak sih kalau yang Kamu lakukan itu jahat! Disadari atau nggak hal-hal inilah yang bikin karang kita rusak dan mati. Beruntungnya, masih banyak orang yang peduli dan cinta pada terumbu karang ini. Jadi mereka-mereka inilah yang akhirnya merehabilitasi dan mengkonservasi alam bawah laut supaya bisa hidup kembali.

        Ya sama seperti yang dibilang Bapak Toto Soebijakto, seorang Kepala Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan di Banyuwangi yang sudah jatuh cinta pada keindahan alam laut sejak masih kecil. Menikmati indahnya terumbu karang di berbagai titik di Indonesia membuatnya sadar kalau terumbu karang kita udah mulai banyak yang rusak. Tapi nggak seburuk itu, karang kita masih cukup bagus kok dan masih bisa diperbaiki kembali.

Konservasi itu nggak harus dilakukan ahli 
dengan seabreg peralatan yang rumit.


      Kalau menurut Pak Toto, Kamu bisa juga melakukan konservasi terumbu karang kok. Atau nggak usah jauh-jauh ke kata konservasi yang mungkin buat Kamu terlalu rumit. Menjaga supaya terumbu karang nggak tambah rusak dan tetap lestari. Simpel, jangan lakukan hal yang bisa merusaknya. Ya seperti tadi yang sudah saya kasih tahu. Pake bahan kimia, peledak, buang sampah sembarangan dilaut,nginjek-nginjek coral, kasih makan ikan sembarangan,corat-coret di coral atau mengeksploitasi karang berlebihan.

      Coba deh untuk nggak melakukan hal-hal ini. Kalau semua orang punya niat yang sama dan juga melakukannya sama-sama, bayangin betapa karang kita mungkin akan jadi yang terbaik di dunia. Sudah rusak pun karang kita masih bagus, apalagi kalau nggak rusak. Iya kan?

      Lebih-lebih sahabat mau belajar jauh lagi, gimana sih caranya mengembangbiakkan karang. Gimana caranya ngerawat karang yang udah hampir mati. Sahabat bisa lho gabung di komunitas-komunitas pencinta alam setempat. Khususnya yang bergerak di bidang kelautan ya. Sahabat bakal dapat banyak ilmu yang bisa diterapkan untuk pelestarian terumbu karang ini. Intinya sih dimulai dari sendiri, baru menularkan ke orang lain.

O...iya, karena hidup di daerah tropis makanya terumbu karang di Indonesia 
bisa lebih indah dan subur dibanding dengan negara lain.


        Mengobrol degan Pak Toto membuat saya sadar bahwa kekayaan Indonesia itu adalah bagian dari takdir. Gimana nggak, sekarang sahabat hidup di daerah tropis yang begitu subur dan indah. Daerah yang memungkinkan untuk hidup banyak flora dan fauna yang nggak bisa hidup di daerah lainnya.

     Terumbu karang itu tumbuh subur di antara suhu 21-29 derajat celcius. Dan itu ada di Indonesia lho sahabat! Maka nggak salah kalau banyak wisatawan mancanegara yang hobi diving di Indonesia, bahkan berkali-kali kembali lagi ke sini. Karena memang, menurut mereka Indonesia punya terumbu karang yang sangat subur, indah dan luas.

      Faktor tropis ini jugalah yang bikin terumbu karang di rumah kita ini lebih cepat tumbuh dan lebih mudah direhabilitasi. Asal, Sahabat nggak mengusik mereka dengan bahan-bahan kimia lagi ya. Satwa-satwa laut juga lebih beragam, karena faktanya ada wilayah di Indonesia yang merupakan area Wallace. Dan di area inilah kekayaan biota laut kita -terutama Indonesia Timur-  melimpah karena merupakan pertemuan dari dua habitat dari Asia dan Australia.

Sudah saatnya bergandeng tangan
untuk menjaga apa yang kita punya bersama.

     Jujur saya sering kepikiran, besok anak cucu saya bisa nggak ya ngeliat betapa indahnya alam Indonesia ini. Besok bisa nggak ya, ketika mereka main-main ke laut lalu bertanya,

Ma...., ini yang “orange” namanya ikan apa ya Ma?
 -sambil nunjuk nemo kecil di pinggiran pantai-

      Sedih ngebayangin mereka udah nggak bisa ngeliat itu semua. Mungkin kalau sampai sekarang kita cuma sibuk menikmati tanpa mau merawat apalagi menjaga, ya bakalan begitu. Nggak ada lagi yang tersisa dari Indonesia. Sahabat barang kali sering mikir hal yang sama kayak saya.

     Sahabatku, Saya berangan-angan gimana sih agar anak-anak kita bisa ngobrol sama cucu-cucu kita kelak ketika menikmati keindahan pantai NGGAK lagi muncul kalimat :

“Dulu !! di sana agak di tengah dari pantai ini ada taman yang indah sekali nak!,
tapi sekarang habis ditelan air laut !” Sedih NGGAK!!

Bukan itu yang kita mau. Tapi kita ingin dalam obrolan diatas ada kalimat :

“Dulu !! di sana karangnya rusak berat nak, berkat perjuangan Kakekmu bersama teman-temannya melakukan konservasi di sana, sekarang menjadi sangat indah dipandang!! Hebat ya nak, Kakekmu sama teman-temannya!! Yuk kita jaga sama-sama buah perjuangan Kakek dan teman-temannya!!” Bangga NGGAK!!

      Yang bisa kita lakukan sebetulnya adalah menjaga apa yang kita punya. Dari hal kecil yang bisa dilakukan. It’s ok mau memanfaatkan laut dan seisinya untuk keperluan wisata. Tapi bukan berarti dengan sesuka hati menikmatinya tanpa peduli dampak lingkungannya.

      Maka saya mulai memahami makna cinta dari Pak Toto untuk laut Indonesia. Dia suka dan cinta kegiatan snorkeling maupun menyelam. Dia belajar untuk itu agar bisa melakukan lebih banyak hal untuk konservasi. Bukan sekadar menikmati keindahannya, lalu setelah itu udah selesai.

      Ini hanya segelintir keresahan saya pada keindahan laut kita. Mungkin di luar sana, ada banyak pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa yang sudah bergerak. Dan saya sedang berusaha untuk bergerak dengan cara yang berbeda. Semoga Indonesia tetap kaya, indah, satu padu, dan Perikanan semakin jaya. Jangan lupa sahabatku pembaca, tunggu cerita berikutnya tentang “Hutan Menawan Di Dasar Laut”

Jangan pernah melihat kepada sesuatu yang besar,
lihatlah sesuatu hal yang kita punya meski kecil.
Buatlah yang kecil ini menjadi besar,
agar bisa memberikan manfaat ke sesama.
GoestyBassMarlin@blogspot.com.